Kamis, 17 Desember 2015

ARWAH MEMBACA MENULIS DI CAKRAWALA PELAJAR MULAI PUDAR DAN SANGAT MENURUN DENGAN PERUBAHAN DI ERA MODERN
Oleh: Agus Purnomo/5 F/ 13410250

     Perubahan pelajar sekarang setelah mengenal sosial media yang sangat populer diera modern ini sangat merubah sebuah pergerakan pelajar untuk membaca-menulis karena mereka lebih senang bermain di sosial media seperti BBM, facebook, path, line, instagram, dll. Arwah pelajar sudah menyatu dengan sebuah gadget yang sudah canggih, bahkan mereka dapat merubah sebuah status dan DP atau foto fropil dalam beberapa detik dan dapat dibandingkan dengan kegiatan membaca-menulis yang mereka lakukan setiap hari padahal itu, sangat berpengaruh pada kegiatan belajar di sekolah dan tentu juga itu akan mempengaruhi hasil belajar mereka, tanpa mereka sadari dalam satu hari dapat mengunggah baik status maupun foto-foto dalam moment gembira, sedih, bahkan biasa mengungah gambar-gambar yang tidak sewajarnya mereka unggah di media sosial, bahkan tanpa menghiraukan apakah hasil belajar yang meraka sudah sebanding dengan aktivitas yang dilakukan setiap hari tanpa berpikir apakah dampak yang diperoleh dalam proses belajar disekolah. Dalam satu hari semalam mereka dapat dihitung dengan jari berapa kali mereka membaca menulis bahkan dapat dilihat beberapa menit saja mereka membuka buku dan melakukan membaca menulis demi tercapainya hasil yang maksimal, tapi itu sangat bertolak belakang dengan kenyataan, walupun mereka mendapat hasil yang kurang tetapi mereka tak meghiraukan apa yang mereka peroleh yang dipentingkan permasalahan mereka bergaya dengan sosial media yang meraka miliki. Inilah adalah sebuah permasalah yang harus di tebang demi terciptanya sebuah pemebelajaran membaca menulis yang sangat baik dengan itu akan terciptanya sebuah kualitas pendidik yang sangat baik dan memberikan efek yang baik bagi para pelajar. Memang ini adalah dampak buruk yang dapat memberikan efek negatif dan yang sangat tidak baik bagi anak, ada beberapa faktor yang memperngaruhi permasalahan membaca menulis atau rendahnya mutu siswa itu sendiri. Salah satu faktor yang menyebabkan kemampuan membaca siswa tergolong rendah karena sarana dan prasarana pendidikan khususnya perpustakaan dengan buku-bukunya belum mendapat prioritas dalam penyelenggaraannya. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan adanya buku-buku yang cukup dan bermutu serta eksistensi perpustakaan dalam menunjang proses pembelajaran. Faktor lain yang menghambat kegiatan siswa untuk mau membaca adalah kurikulum yang tidak secara tegas mencantumkan kegiatan membaca dalam suatu bahan kajian, serta para tenaga kependidikan baik sebagai guru, dosen maupun para pustakawan yang tidak memberikan motivasi pada anak-anak peserta  didik bahwa membaca itu penting untuk menambah ilmu pengetahuan, melatih berfikir kritis, menganalisis persoalan, dan sebagainya.
Hampir semua sekolah pada semua jenis dan jenjang pendidikan, kondisi perpustakaannya masih belum memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan. Perpustakaan sekolah belum sepenuhnya berfungsi. Jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan,  serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Padahal perpustakaan sekolah merupakan sumber membaca dan sumber belajar sepanjang hayat yang sangat vital dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Minat baca siswa yang rendah dewasa ini disebabkan oleh  faktor, perkembangan teknologi dan pusat-pusat informasi yang lebih menarik,, perkembangan tempat-tempat hiburan acara televisi. Sehingga  status dan kedudukan perpustakaan, serta citra perpustakaan dalam pandangan siswa sangat rendah. Hal ini secara lebih luas, dengan menengok sendi-sendi budaya masyarakat yang pada dasarnya kurang mempunyai landasan budaya baca, atau pewarisan secara intelektual. Masyarakat dalam menginformasikan sesuatu termasuk cerita-cerita terdahulu lebih mengandalkan budaya tutur daripada tulisan. Latar budaya lisan itulah yang agaknya menjadi salah satu sebab lemahnya budaya baca masyarakat, termasuk minat pada pustaka dan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan. Tak hanya itu juga faktor lingkungan itu juga memepengaruhi siswa yang kurang peka akan pentingnya sebuah kualitas pendidikan yang bermutu.  Kemajuan Teknologi
Minat baca siswa yang rendah dewasa ini disebabkan oleh  faktor, perkembangan teknologi dan pusat-pusat informasi yang lebih menarik,, perkembangan tempat-tempat hiburan (entertainment), acara televisi. Sehingga  status dan kedudukan perpustakaan, serta citra perpustakaan dalam pandangan siswa sangat rendah. Hal ini secara lebih luas, dengan menengok sendi-sendi budaya masyarakat yang pada dasarnya kurang mempunyai landasan budaya baca, atau pewarisan secara intelektual. Masyarakat dalam memberitakan sesuatu termasuk cerita-cerita terdahulu lebih mengandalkan budaya tutur daripada tulisan. Latar budaya lisan itulah yang agaknya menjadi salah satu sebab lemahnya budaya baca masyarakat, termasuk minat pada pustaka dan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan. Rendahnya minat baca di kalangan anak dapat disebabkan oleh kondisi keluarga yang tidak mendukung, terutama dari orang tua anak-anak yang tidak mencontohkan kegemaran membaca kepada anak-anak mereka. Selain itu, kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua mereka terhadap kegiatan anak-anaknya. Hal ini dapat dikaitkan pula dengan konsep pendidikan yang diterapkan dan dipahami orang tua. Sementara terkait dengan fasilitas, minimnya ketersediaan bahan bacaan di rumah juga dapat membuat anak kurang berminat pada kegiatan membaca karena tidak ada atau kurangnya sumber bacaan yang tersedia di rumah. Selain dari sisi keluarga, terdapat juga pengaruh dari lingkungan. Karena pengaruh ajakan yang begitu kuat dari lingkungan (teman), anak lebih memilih bermain dengan teman-temannya dibanding membaca buku. Dan terakhir, ketersediaan waktu yang kurang, membuat anak kurang berminat untuk membaca.  Seperti kondisi beberapa informan anak yang bersekolah dengan sistem full day school, tentu sebagian besar waktu dalam sehari sudah banyak dihabiskan di sekolah. Kesempatan memiliki waktu luang sangat terbatas. Apalagi jika masih ada kegiatan-kegiatan rutin yang mereka jalani setelah pulang sekolah. Kalaupun masih ada sisa waktu, mereka lebih memanfaatkan untuk bersantai dan melepas lelah.
Rendahnya minat baca siswa, tentu tidak hanya sebatas masalah kuantitas dan kualitas buku saja, melainkan terkait juga pada banyak hal yang saling berhubungan. Misalnya, mental anak dan lingkungan keluarga/masyarakat yang tidak mendukung. Orang kota mungkin kesulitan membangkitkan minat baca siswa karena serbuan media informasi dan hiburan elektronik. Sementara di pelosok desa, siswa lebih suka keluyuran ketimbang membaca. Sebab, di sana lingkungan/tradisi membaca tidak tercipta. Orang lebih suka ngerumpi atau menonton acara televisi daripada membaca. Rendahnya minat baca dapat bedampak kurang buruk, baik bagi diri sendiri, masyarakat bangsa dan Negara. Buruknya kemampuan membaca siswa berdampak pada kekurangnya kemampuan mereka dalam penguasan bidang ilmu pengetahuan dan matematika, menurunya prestasi yang diraih, dan menyebabkan buta huruf. Selain itu, penurunan minat baca dari kalangan siswa itu mengakibatkan, rata-rata nilai Ujian Nasinal enam mata pelajaran yang diujikan pada setiap sekolah di bawah standar minimal kelulusan, dan hanya mata pelajaran hanya beberapa mata pelajaran saja yang nilanya di atas standar minimal kelulusan.
Apabila rendahnya minat dan kemampuan membaca siswa, maka dalam persaingan global kita akan selalu ketinggalan dengan sesama negara berkembang, apalagi dengan negara-negara maju lainnya. Kita tidak akan mampu mengatasi segala persoalan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan lainnya selama SDM kita tidak kompetitif, karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, akibat lemahnya kemauan dan kemampuan membaca. Oleh sebab itu penyelenggaraan pendidikan harus memenuhi beberapa prinsip antara lain , sebagai suatu proses pembudayaan  dan  pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung.
Kedua prinsip di atas harus saling bergayut. Artinya dalam proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, harus diisi dengan kegiatan pengembangan budaya membaca, menulis dan berhitung. Pengembangan kurikulum secara berdiversifikasi khususnya dalam Bahan Kajian Bahasa Indonesia harus memuat kegiatan pengembangan budaya membaca dan menulis dengan alokasi waktu yang cukup memberi kesempatan banyak untuk membaca.Demikian pula dalam bahan kajian seni dan budaya, cakupan kegiatan menulis harus jelas dan berimbang dengan kegiatan menggambar/melukis, menyanyi dan menari. Kegiatan membaca dan menulis tidak saja menjadi prioritas dalam Bahan Kajian Bahasa Indonesia dan Bahan Kajian Seni dan Budaya, tetapi hendaknya juga secara implisit harus tercantum dalam Bahan-bahan Kajian lainnya. Kurangnya kegemaran membaca adalah menurunnya keinginan untuk menambah pengetahuan lewat jendela dunia berupa bacaan sebagai sumber informasi.
Rendahnya minat baca dikalangan siswa khususnya siswa dan masyarakat Indonesia pada umumnya, berpengaruh buruk terhadap kualitas pendidikan. Wajar, sudah lebih setengah abad bangsa Indonesia merdeka, permasalahan kualitas pendidikan masih berada dalam potret yang buram. Kualitas pendidikan bangsa Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangganya.
Kurangnya kegemaran membaca di kalangan siswa terjadi karena siswa terbiasa dicekoki oleh informasi instan yang biasa diperoleh dari siaran TV dan media elektronik lainnya. Disamping itu, remaja menganggap membaca adalah hal yang membosankan. Padahal dengan membaca cakrawala intelektual kita bisa terbuka dan menjadikan kita lebih tanggap akan lingkungan sekitar.
Mengingat pentingnya membaca dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi para pelajar, maka tingginya minat baca bagi para pelajar, wajib dipupuk karena membaca amat menentukan bagi prestasi seorang pelajar. Bagaimana prestasi belajar siswa akan tinggi jika para siswa enggan membaca  baik buku–buku yang berhubungan denganpelajaran ataupun buku–buku lainnya yang menunjang?.
Buku adalah harta terpendam yang dapat mencerdaskan bangsa, bagaimana bangsa kita bisa cerdas jika setiap pelajarnya enggan untuk membacanya. Tinggi rendahnya minat baca suatu bangsa amat menentukan kualitas sumber daya manusia, sedangkan kualitas sumber daya manusia sangat menentukan perkembangan suatu bangsa.
Meskipun hampir di setiap sekolah memiliki perpustakaan, namun selama ini perpustakaan hanya dianggap tempat menyimpan buku. Hanya sedikit pelajar yang memiliki kesadaran untuk berkunjung ke perpustakaan pada saat waktu luang. Sebagian besarnya menggunakan waktu luang untuk kongkow-kongkow atau sekedar mengobrol kanan, kiri, kalaupun ada yang berkunjung ke perpustakaan itu hanya pada saat–saat tertentu saja, misalnya pada saat ada tugas dari para guru. Ada juga para siswa yang berkunjung ke perpustakaan hanya untuk membaca cerita roman, para siswa tidak memiliki kesadaran akan arti penting membaca.




Senin, 07 Desember 2015

PRESTASI YANG KU DAMBAKAN

Oleh: Agus Purnomo/ 13410250

            Nama saya adalah Agus Purnomo, aku lahir di Pati, 24 Februari 1995, aku bangga dengan ibu aku yang sudah membesarkan aku seorang diri, ya ayah aku sudah meninggal dunia sejak aku umur tujuh bulan setelah aku lahir. Aku tak pernah malu dengan provesi orang tua aku, tetapi aku bangga dengan keadaan ekonomi keluarga aku yang dengan hidup kesederhanaan tapi diiringi kebahagian bersama ibu aku, ya ibu yang selalu menuruti kemauan anaknya walaupun ibu harus mencuci baju orang lain dan menjadi buruh pabrik. Setiap pagi aku selalu panggil ibu..buk...ibuk...sarapan paginya udah ada dan ibu pasti menjawab iya nak sarapan pagi udah ada di meja. Setelah selesai semua selesai sarapan aku langsung pergi kesekolah tetapi aku selalu berjanji dengan ibu aku yaitu dengan belajar rajin dan aku selalu mendapat peringkat, satu, dua, dan tiga besar dikelas. Dengan membanggakan ibu aku telah mendapat JUARA 3 menyanyi tunggal putra se-kecamatan, setelah tamat di SD, akupun melanjutkan ke SMP N 1 Wedarijaksa. Aku selalu mempunyai prinsip bahwa aku harus membahagiakan ibu aku yang telah membesarkan aku, walaupun kadang aku mengecewakan  ibu aku, tetapi setelah itu rasa kecewa dan penyesalanpun aku rasakan dan aku berpikir “apa yang aku lakukan tadi” pasti hati ibu kecewa dengan permintaan aku yang terlalu memberatkan dirinya, karena kadang permintaan aku melebihi dari penghasilan yang diperoleh setiap harinya, tetapi aku selalu bersyukur mempunyai ibu yang penyabar, sayang kepada aku dengan sepenuh hati, walaupun terkadang aku menyakiti perasaannya. Ohh..iya selain aku tinggal bersama ibu aku aku juga tinggal bersama nenek aku dan setiap pulang sekolah aku meminta makan pada nenek aku. Aku selalu memanggil nenek aku dengan sebutan Mae, mae sangat sayang kepada aku, setiap pulang sekolah aku selalu memanggil mae..mae..maeee aku mau makan, pasti mae bilang itu makanannya udah ada. Lauk yang aku sukai adalah tempe goreng dan sayur bening jagung muda, setiap 3 hari sekali mae selalu memasakkan aku seperti itu...yahh itulah kesukaan aku. Waktu ternyata tak lama aku sekarang sudah memasuki sekolah ke SMK...yahh aku sekolah di SMK Muhammadiyah 1 Pati mengambil kompetensi keahlian Administrasi Perkantoran di SMK pun aku selalu membanggakan ibu aku dengan mengikuti berbagai lomba dan akupun selalu mendapat peringkat 1 dikelas dan kejuaran yang pernah aku raih adalah  juara 3 lomba kewirausahaan tingkat Eks-karisiden Pati dan saat itu aku sangat bahagia sekali aku membawa pulang piala dengan tak sabar aku pulang dengan bergegas..aku panggil ibuu..ibuuu dan ibu aku menjawab ada apa nak kok teriak teriak dari jauh. Aku mendapat juara buk... hahhhh..haahhh tak sia-sia bu usaha aku selama ini dengan selalu belajar tekun dan taat beribadah. Setelah itu aku maju lagi untuk lomba tingkat nasional yaitu dengan tema lomba bussnies plan (kewirausahaan), aku saat itu membuat suatu produk yaitu pengolah bonggol pisang yang aku olah menjadi keripik bonggol pisang yang aku bentuk dengan berbagai varian rasa ada rasa daun jeruk, rasa bawang, rasa balado.

           Ini adalah hasil produk yang aku olah dari bonggol pisang menjadi sebuah keripik bonggol pisang aneka rasa yang tentunya belum dikenal olah masyarakat sekitar dan alasan saya mengolah produk ini adalah untuk mengangkat produk rendah untuk menjadi produk unggulan baik di kalangan masyarakat maupun nasional.
Aku dengan mengeluarkan produk ini, aku dapat menjuara suart lomba  dengan mendapat Juara 3 Olimpiade Nasional di Yogyakarta dengan meraih medali perunggu, aku sangat bahagia yang bercampur aduk dengan rasa haru tangis bahagia.

                                                                                     Dengan membawa pulang nama baik seko    sekolah, aku juga berharap dengan aku
Oleh kejuaran ini aku dapat membahgiakan ibu aku yang telah menyekolahkan aku dengan ciri payahnya dan membanting tulang hanya demi aku anak yang disayang, dan rasa sayang nya tidak akan hilang sepanjang masa.


 Setelah lulus SMK, aku menlanjutkan untuk studi lanjut di IKIP PGRI Semarang mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang sekarang kampusnya sudah menjadi UNIVERSITAS PGRI Semarang, aku sangat bahagia sekali dapat mengabulkan permintaan ibu aku untuk kuliah di keguruan dan kelak nanti dapat menjadi seorang guru yang profesional, unggul, dan berjati diri itulah menjadi sloga kampus tercinta saya yang memupuk semangat saya untuk giat belajar dan kuliah dengan sungguh-sungguh. Dan sekarang aku udah semester 5, ibu senang sekali aku dapat kuliah walaupun ibu hanya dapat mempuh pendidikan hanya sampai SD saja, alasan ibu mengkuliahkan aku, agar dapat menempuh pendidikan yang tinggi dan menjadi orang berguna bagi orang banyak.
ARWAH MEMBACA MENULIS DI CAKRAWALA PELAJAR MULAI PUDAR DAN SANGAT MENURUN DENGAN PERUBAHAN DI ERA MODERN
Oleh: Agus Purnomo/5 F/ 13410250

     Perubahan pelajar sekarang setelah mengenal sosial media yang sangat populer diera modern ini sangat merubah sebuah pergerakan pelajar untuk membaca-menulis karena mereka lebih senang bermain di sosial media seperti BBM, facebook, path, line, instagram, dll. Arwah pelajar sudah menyatu dengan sebuah gadget yang sudah canggih, bahkan mereka dapat merubah sebuah status dan DP atau foto fropil dalam beberapa detik dan dapat dibandingkan dengan kegiatan membaca-menulis yang mereka lakukan setiap hari padahal itu, sangat berpengaruh pada kegiatan belajar di sekolah dan tentu juga itu akan mempengaruhi hasil belajar mereka, tanpa mereka sadari dalam satu hari dapat mengunggah baik status maupun foto-foto dalam moment gembira, sedih, bahkan biasa mengungah gambar-gambar yang tidak sewajarnya mereka unggah di media sosial, bahkan tanpa menghiraukan apakah hasil belajar yang meraka sudah sebanding dengan aktivitas yang dilakukan setiap hari tanpa berpikir apakah dampak yang diperoleh dalam proses belajar disekolah. Dalam satu hari semalam mereka dapat dihitung dengan jari berapa kali mereka membaca menulis bahkan dapat dilihat beberapa menit saja mereka membuka buku dan melakukan membaca menulis demi tercapainya hasil yang maksimal, tapi itu sangat bertolak belakang dengan kenyataan, walupun mereka mendapat hasil yang kurang tetapi mereka tak meghiraukan apa yang mereka peroleh yang dipentingkan permasalahan mereka bergaya dengan sosial media yang meraka miliki. Inilah adalah sebuah permasalah yang harus di tebang demi terciptanya sebuah pemebelajaran membaca menulis yang sangat baik dengan itu akan terciptanya sebuah kualitas pendidik yang sangat baik dan memberikan efek yang baik bagi para pelajar. Memang ini adalah dampak buruk yang dapat memberikan efek negatif dan yang sangat tidak baik bagi anak, ada beberapa faktor yang memperngaruhi permasalahan membaca menulis atau rendahnya mutu siswa itu sendiri. Salah satu faktor yang menyebabkan kemampuan membaca siswa tergolong rendah karena sarana dan prasarana pendidikan khususnya perpustakaan dengan buku-bukunya belum mendapat prioritas dalam penyelenggaraannya. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan adanya buku-buku yang cukup dan bermutu serta eksistensi perpustakaan dalam menunjang proses pembelajaran. Faktor lain yang menghambat kegiatan siswa untuk mau membaca adalah kurikulum yang tidak secara tegas mencantumkan kegiatan membaca dalam suatu bahan kajian, serta para tenaga kependidikan baik sebagai guru, dosen maupun para pustakawan yang tidak memberikan motivasi pada anak-anak peserta  didik bahwa membaca itu penting untuk menambah ilmu pengetahuan, melatih berfikir kritis, menganalisis persoalan, dan sebagainya.
Hampir semua sekolah pada semua jenis dan jenjang pendidikan, kondisi perpustakaannya masih belum memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan. Perpustakaan sekolah belum sepenuhnya berfungsi. Jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan,  serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Padahal perpustakaan sekolah merupakan sumber membaca dan sumber belajar sepanjang hayat yang sangat vital dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Minat baca siswa yang rendah dewasa ini disebabkan oleh  faktor, perkembangan teknologi dan pusat-pusat informasi yang lebih menarik,, perkembangan tempat-tempat hiburan acara televisi. Sehingga  status dan kedudukan perpustakaan, serta citra perpustakaan dalam pandangan siswa sangat rendah. Hal ini secara lebih luas, dengan menengok sendi-sendi budaya masyarakat yang pada dasarnya kurang mempunyai landasan budaya baca, atau pewarisan secara intelektual. Masyarakat dalam menginformasikan sesuatu termasuk cerita-cerita terdahulu lebih mengandalkan budaya tutur daripada tulisan. Latar budaya lisan itulah yang agaknya menjadi salah satu sebab lemahnya budaya baca masyarakat, termasuk minat pada pustaka dan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan. Tak hanya itu juga faktor lingkungan itu juga memepengaruhi siswa yang kurang peka akan pentingnya sebuah kualitas pendidikan yang bermutu.  Kemajuan Teknologi
Minat baca siswa yang rendah dewasa ini disebabkan oleh  faktor, perkembangan teknologi dan pusat-pusat informasi yang lebih menarik,, perkembangan tempat-tempat hiburan (entertainment), acara televisi. Sehingga  status dan kedudukan perpustakaan, serta citra perpustakaan dalam pandangan siswa sangat rendah. Hal ini secara lebih luas, dengan menengok sendi-sendi budaya masyarakat yang pada dasarnya kurang mempunyai landasan budaya baca, atau pewarisan secara intelektual. Masyarakat dalam memberitakan sesuatu termasuk cerita-cerita terdahulu lebih mengandalkan budaya tutur daripada tulisan. Latar budaya lisan itulah yang agaknya menjadi salah satu sebab lemahnya budaya baca masyarakat, termasuk minat pada pustaka dan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan. Rendahnya minat baca di kalangan anak dapat disebabkan oleh kondisi keluarga yang tidak mendukung, terutama dari orang tua anak-anak yang tidak mencontohkan kegemaran membaca kepada anak-anak mereka. Selain itu, kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua mereka terhadap kegiatan anak-anaknya. Hal ini dapat dikaitkan pula dengan konsep pendidikan yang diterapkan dan dipahami orang tua. Sementara terkait dengan fasilitas, minimnya ketersediaan bahan bacaan di rumah juga dapat membuat anak kurang berminat pada kegiatan membaca karena tidak ada atau kurangnya sumber bacaan yang tersedia di rumah. Selain dari sisi keluarga, terdapat juga pengaruh dari lingkungan. Karena pengaruh ajakan yang begitu kuat dari lingkungan (teman), anak lebih memilih bermain dengan teman-temannya dibanding membaca buku. Dan terakhir, ketersediaan waktu yang kurang, membuat anak kurang berminat untuk membaca.  Seperti kondisi beberapa informan anak yang bersekolah dengan sistem full day school, tentu sebagian besar waktu dalam sehari sudah banyak dihabiskan di sekolah. Kesempatan memiliki waktu luang sangat terbatas. Apalagi jika masih ada kegiatan-kegiatan rutin yang mereka jalani setelah pulang sekolah. Kalaupun masih ada sisa waktu, mereka lebih memanfaatkan untuk bersantai dan melepas lelah.
Rendahnya minat baca siswa, tentu tidak hanya sebatas masalah kuantitas dan kualitas buku saja, melainkan terkait juga pada banyak hal yang saling berhubungan. Misalnya, mental anak dan lingkungan keluarga/masyarakat yang tidak mendukung. Orang kota mungkin kesulitan membangkitkan minat baca siswa karena serbuan media informasi dan hiburan elektronik. Sementara di pelosok desa, siswa lebih suka keluyuran ketimbang membaca. Sebab, di sana lingkungan/tradisi membaca tidak tercipta. Orang lebih suka ngerumpi atau menonton acara televisi daripada membaca. Rendahnya minat baca dapat bedampak kurang buruk, baik bagi diri sendiri, masyarakat bangsa dan Negara. Buruknya kemampuan membaca siswa berdampak pada kekurangnya kemampuan mereka dalam penguasan bidang ilmu pengetahuan dan matematika, menurunya prestasi yang diraih, dan menyebabkan buta huruf. Selain itu, penurunan minat baca dari kalangan siswa itu mengakibatkan, rata-rata nilai Ujian Nasinal enam mata pelajaran yang diujikan pada setiap sekolah di bawah standar minimal kelulusan, dan hanya mata pelajaran hanya beberapa mata pelajaran saja yang nilanya di atas standar minimal kelulusan.
Apabila rendahnya minat dan kemampuan membaca siswa, maka dalam persaingan global kita akan selalu ketinggalan dengan sesama negara berkembang, apalagi dengan negara-negara maju lainnya. Kita tidak akan mampu mengatasi segala persoalan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan lainnya selama SDM kita tidak kompetitif, karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, akibat lemahnya kemauan dan kemampuan membaca. Oleh sebab itu penyelenggaraan pendidikan harus memenuhi beberapa prinsip antara lain , sebagai suatu proses pembudayaan  dan  pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung.
Kedua prinsip di atas harus saling bergayut. Artinya dalam proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, harus diisi dengan kegiatan pengembangan budaya membaca, menulis dan berhitung. Pengembangan kurikulum secara berdiversifikasi khususnya dalam Bahan Kajian Bahasa Indonesia harus memuat kegiatan pengembangan budaya membaca dan menulis dengan alokasi waktu yang cukup memberi kesempatan banyak untuk membaca.Demikian pula dalam bahan kajian seni dan budaya, cakupan kegiatan menulis harus jelas dan berimbang dengan kegiatan menggambar/melukis, menyanyi dan menari. Kegiatan membaca dan menulis tidak saja menjadi prioritas dalam Bahan Kajian Bahasa Indonesia dan Bahan Kajian Seni dan Budaya, tetapi hendaknya juga secara implisit harus tercantum dalam Bahan-bahan Kajian lainnya. Kurangnya kegemaran membaca adalah menurunnya keinginan untuk menambah pengetahuan lewat jendela dunia berupa bacaan sebagai sumber informasi.
Rendahnya minat baca dikalangan siswa khususnya siswa dan masyarakat Indonesia pada umumnya, berpengaruh buruk terhadap kualitas pendidikan. Wajar, sudah lebih setengah abad bangsa Indonesia merdeka, permasalahan kualitas pendidikan masih berada dalam potret yang buram. Kualitas pendidikan bangsa Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangganya.
Kurangnya kegemaran membaca di kalangan siswa terjadi karena siswa terbiasa dicekoki oleh informasi instan yang biasa diperoleh dari siaran TV dan media elektronik lainnya. Disamping itu, remaja menganggap membaca adalah hal yang membosankan. Padahal dengan membaca cakrawala intelektual kita bisa terbuka dan menjadikan kita lebih tanggap akan lingkungan sekitar.
Mengingat pentingnya membaca dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi para pelajar, maka tingginya minat baca bagi para pelajar, wajib dipupuk karena membaca amat menentukan bagi prestasi seorang pelajar. Bagaimana prestasi belajar siswa akan tinggi jika para siswa enggan membaca  baik buku–buku yang berhubungan denganpelajaran ataupun buku–buku lainnya yang menunjang?.
Buku adalah harta terpendam yang dapat mencerdaskan bangsa, bagaimana bangsa kita bisa cerdas jika setiap pelajarnya enggan untuk membacanya. Tinggi rendahnya minat baca suatu bangsa amat menentukan kualitas sumber daya manusia, sedangkan kualitas sumber daya manusia sangat menentukan perkembangan suatu bangsa.
Meskipun hampir di setiap sekolah memiliki perpustakaan, namun selama ini perpustakaan hanya dianggap tempat menyimpan buku. Hanya sedikit pelajar yang memiliki kesadaran untuk berkunjung ke perpustakaan pada saat waktu luang. Sebagian besarnya menggunakan waktu luang untuk kongkow-kongkow atau sekedar mengobrol kanan, kiri, kalaupun ada yang berkunjung ke perpustakaan itu hanya pada saat–saat tertentu saja, misalnya pada saat ada tugas dari para guru. Ada juga para siswa yang berkunjung ke perpustakaan hanya untuk membaca cerita roman, para siswa tidak memiliki kesadaran akan arti penting membaca.




Sabtu, 31 Oktober 2015


MAGANG 1
Oleh : Agus Purnomo/13410250


Universitas PGRI Semarang merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang bertugas menyiapkan tenaga kependidikan profesional. Oleh sebab itu, komposisi program pendidikan S1 yang melanjutkan PPG tidak terlepas dari kegiatan Magang.
Magang merupakan salah satu kegiatan pendidikan yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa perguruan tinggi yang langsung mengambil PPG. Magang ditujukan untuk membina mahasiswa menjadi tenaga kependidikan yang profesional, bertanggung jawab, berdisiplin dan mengetahui tata cara sebagaimana mestinya seorang guru, untuk mencapai tujuan tersebut mahasiswa telah dibekali dengan berbagai mata kuliah yang akan menunjang kegiatan Magang, dan pengembangan profesionalismenya nanti di dunia kerja. Kegiatan Magang dilakukan secara bertahap yang terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap I (Magang 1), tahap II (Magang II), dan tahap III (Magang III).

Mata kuliah Magang merupakan mata kuliah yang wajib dilaksanakan oleh mahaiswa jurusan kependidikan yang mengambil PPG. Bobot sks mata kuliah Magang adalah 2 SKS selama satu semester. Magang merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan tenga kependidikan, dengan berdasarkan pada kompetensi yang termasuk dalam program kurikulum Universitas PGRI Semarang. Oleh karena itu Magang wajib dilaksanakan mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang mengambil program studi pendidikan dan melanjutkan PPG.

Secara umum, Magang yang dilaksanakan bertujuan untuk lebih membina, mengembangkan dan meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap mahasiswa terhadap siswa di sekolah dan lingkungannya. Melalui kegiatan praktik mahasiswa dapat secara konkrit atau nyata memperdalam dan memahami praktik lapangan sebagai persiapan yang mantap sebagai calon guru. Selain itu Magang berfungsi sebagai bekal bagi praktikan agar memiliki pengalaman secara nyata tentang pengajaran di sekolah. Jadi, diharapkan praktikan juga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang menunjang tercapainya penguasaan kompetensi professional, personal dan kemasyarakatan. Maka setelah Magang selesai mahasiswa tidak akan canggung lagi apabila nantinya terjun langsung di masyarakat sebagai seorang pendidik yang profesional, sehingga kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya akan dapat meningkat dan kualitas pendidikan khususnya di Universitas PGRI Semarang juga akan mengalami kemajuan.
Dengan melaksanakan Magang diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap semua komponen yang terkait, yaitu mahasiswa (praktikan), sekolah dan Perguruan Tinggi yang bersangkutan.
1.   Manfaat bagi praktikan
a.       Praktikan dapat memahami keadaan sekolah dan lingkungannya.
b.      Praktikan dapat mempraktikan ilmu yang diperolehnya selama dibangku kuliah melalui proses pengajaran yang dibimbing oleh guru pamong di dalam kelas.
c.       Memperdalam pengertian dan penghayatan mahasiswa tentang pelaksanaan pendidikan.
d.      Mendewasakan cara berfikir dan meningkatkan daya penalaran mahasiswa dalam melakukan penelaahan, perumusan dan pemecahan masalah pendidikan yang ada di sekolah.

2.   Manfaat bagi sekolah
a.       Dapat meningkatkan kualitas pendidik.
b.      Dapat menambah keprofesionalan guru.

3.   Manfaat bagi Universitas PGRI Semarang
a.       Memperoleh masukan tentang kasus pendidikan yang dipakai sebagai bahan pertimbangan penelitian.
b.      Memperluas dan meningkatkan jaringan dan kerja sama dengan sekolah yang diteliti.
A.      Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah
a.    Visi SMK Kristen Gergaji
Menciptakan tenaga kerja tingkat menengah yang:
1.    Berbudi luhur.
2.    Penuh pengabdian.
3.    Bertanggung jawab.
4.    Terampil.
5.    Mandiri.

b.    Misi SMK Kristen Gergaji
1.    Menghasilkan sumber daya manusia yang dapat menjadi faktor keunggulan dalam berbagai sektor pembangunan.
2.    Mengubah siswa dari status beban menjadi aset pembangunan yang produktif.
3.    Menghasilkan tenaga kerja profesional untuk memenuhi tuntutan kebutuhan industri pada khususnya dan pembangunan pada umumnya.
4.    Membekali siswa dengan kemampuan untuk dapat mengembangkan dirinya secara berkelanjutan.




c.    Tujuan Sekolah
a.    Mempersiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profrsional.
b.    Menyiapkan siswa mampu memiliki karier, mampu berkomunikasi dan mampu mengembangkan diri.
c.    Menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri saat ini maupun masa yang akan dating.
d.   Menyiapkan siswa menjadi warga Negara yang produktif, adatif dan kreatif.

B.       Praktik baik yang dilakukan sekolah (Best Practices)
Adanya kerjasama dengan Akademi Marsudirini dalam kelas/penjurusan bidang Administrasi Perkantoran.

C.       Kurikulum yang diterapkan di sekolah dan prinsip-prinsip pengembangannya
SMK Kristen Gergaji Semarang menggunakan kurikulum 2013 untuk kelas X dan XI, dan kurikulum KTSP digunakan untuk kelas XII.
Kurikulum 2013 yang diterapkan di SMK Kristen Gergaji Semarang mengalami beberapa kendala, diantaranya:
-       Siswa kurang aktif ketika di kelas.
-       Ada beberapa guru kejuruan yang belum mendapatkan sosialisasi tentang kurikulum 2013.
-       Buku kurang memadai. Baru ada buku untuk siswa, buku untuk guru belum ada.
-       Alat peraga belum ada.
-       Kelas kurang memadai (belum ada LCD).
-       Belum ada ruang khusus untuk praktik.
D.      Keadaan Fisik Sekolah
( Amati keadaan fisik sekolah, ada baiknya dilengkapi dengan foto/video, uraikan secara detail keunggulan, kelemahan dan permasalahan yang ada )
  1. Luas tanah                   : 3600 m².
  2. Jumlah Ruang Kelas   : 6 kelas.
  3. Ukuran Ruang Kelas   : 42 m2.
  4. Bangunan lain yang ada
a.       Ruang Komputer                          luasnya: 56 m2
b.      Laboratorium Mengetik                luasnya: 56 m2
c.       Ruang BK                                     luasnya: 15 m2
d.      Ruang OSIS                                  luasnya: 56 m2
e.       Perpustakaan                                 luasnya: 56 m2
f.       Kantor Kepala Sekolah                 luasnya: 15 m2
g.      Kantor Guru                                  luasnya: 56 m2
h.      Kamar Mandi                                luasnya: 5 m2
i.        Gudang                                         luasnya: 20 m2
j.        Rumah Penjaga                             luasnya: 10 m2

  1. Lapangan Olah Raga (jenis ukuran)
­­­Memiliki sebuah lapangan olahraga yang berfungsi sebagai lapangan basket, lapangan voli, lapangan futsal, dan juga digunakan ketika melaksanakan upacara.

E.       Keadaan Lingkungan Sekolah
( jelaskan lingkungan sekolah, yang meliputi : bangunan sekitar sekolah, masyarakat sekitar sekolah, masyarakat asal peserta didik, rata-rata jarak domisili siswa dengan sekolah, sarana transportasi ke sekolah, Komite sekolah , ada baiknya dilengkapi foto/video)
1.      Jenis bangunan yang mengelilingi sekolah :
-       Sebelah kanan sekolah        : garasi mobil pemkot Semarang.
-       Sebelah kiri sekolah            : gedung Golkar.
-       Depan sekolah                    : SD Bina Amal.

2.      Kondisi Lingkungan Sekolah
Kondisi lingkungan sekitar SMK Kristen Gergaji Semarang sangat ramai, karena SMK Kristen Gergaji satu gedung dengan TK Gergaji, SD Gergaji dan SMP Gergaji. Selain itu, dengan gedung sekolah banyak warung-warung makan. Kemudian, jarak domisili siswa dengan sekolah lumayan jauh, jadi sebagian besar siswa SMK Kristen Gergaji Semarang menggunakan sepeda motor untuk sampai di sekolah.




  1. Lingkungan masyarakat sekolah
Dari segi ekonomi orang tua siswa, bisa dikatakan mereka berada pada ekonomi tingkat menengah ke bawah. Para siswa yang tidak menggunakan sepeda motor memerlukan transportasi umum untuk sampai di sekolah. Tetapi, sebagian besar siswa sudah menggunakan sepeda motor sendiri.

F.        Fasilitas Sekolah (tuliskan jenis, kuantitas dan kualitasnya)
1.    Perpustakaan                           : -  1 kipas angin.
-       6 buah lampu.
-       1 televisi.
-       2 papan tulis kapur.
-       8 rak buku.
2.    Ruang Mengetik                     : -  1 kipas angin.
-       3 buah lampu.
-       1 papan tulis kapur.
-       2 rak buku.
-       40 alat ketik.
3.    Laboratorium Komputer         : -   2 kipas angin.
-       4 lampu.
-       21 komputer.
-       20 meja.
-       30 kursi.
-       2 papan tulis.
-       1 printer.
4.    Ruang BP                                : -  1 kipas angin.
-        
5.    Ruang Serbaguna (Aula)         : -  3 kipas angin.
-       30 lampu.
-       150 kursi.
-       3 meja besar.
6.    Ruang Tata Usaha                   : -  1 kipas angin.
-       1 komputer.
-       1 mesin ketik.
-       1 printer.

G.      Guru dan karyawan
( uraikan keadaan guru, linieritas guru dengan mapel, kondisi social ekonomi para guru dan karyawan)
1.    Jumlah Guru dan karyawan    :  - guru                        : 15 orang.
   - karyawan TU         : 1 orang.
   - petugas kebersihan : 2 orang.
2.    Jumlah Kelas                           : 6 kelas.
3.    Jumlah Siswa per kelas           : 23 siswa.
4.    Jumlah siswa seluruhnya         : 133 siswa.


H.      Kesiswaan
(uraikan tatacara, prosedur, dan kriteria penerimaan peserta didik baru, serta kegiatan pengembangan/pembinaan siswa dsb )
1.      Kriteria penerimaan siswa baru
Untuk siswa yang ingin mendaftarkan diri di SMK Kristen Gergaji harus melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
-       Siswa datang ke sekolah untuk mengisi formulir pendaftaran.
-       Siswa akan diseleksi berdasarkan nilai UN ketika SMP.
-       Bagi siswa yang sudah diterima, 3 hari sebelum masuk sekolah harus mengikuti tes wawancara untuk penjurusan kelas.

2.      Kegiatan pengembangan siswa / kegiatan ekstra kurikuler
Di SMK Kristen Gergaji Semarang hanya terdapat 2 kegiatan ekstra kurikuler yaitu ekstra kurikuler futsal dan ekstra kurikuler renang.




3.    Kegiatan Pramuka, Karya Ilmiah siswa, dll
Di SMK Kristen Gergaji Semarang tidak ada kegiatan pramuka, karya ilmiah siwa atau yang lainnya.

I.     Karakteristik peserta didik
Di SMK Kristen Gergaji ada beberapa budaya, diantaranya: budaya bersih, budaya disiplin, budaya sopan santun, budaya menyanyi, budaya doa pagi khusus guru, dan budaya doa siang untuk siswa.

J.         Tata Tertib
1.    Untuk siswa
-            Tata tertib pada umumnya       :
a)    Sekolah mulai pada pukul 06.45 wib, semua wajib datang sebelum pembelajaran dimulai.
b)   Siswa yang datang terlambat wajib melapor pada guru piket/ BP/ kepala sekolah, mengikuti pelajaran pada jam ke-2 setelah mendapatkan sanksidari guru piket/ BP/ Kepala sekolah.
c)    Siswa yang meninggalkan sekolah sebelum pelajaran sekolah selesai harus minta izin kepada guru piket/ BP/ Kepala sekolah.
d)   Siswa yang tidak masuk karena sakit atau sebab lainnya wajib menyerahkan surat dokter atau surat izin dari orang tua atau wali murid dialamatkan kepada wali kelas / Kepala sekolah.
e)    Semua siswa wajib mengikuti segala kegiatan yang berhubungan dengan pelajaran sekolah.
f)    Siswa wajib mengikuti secara tertib :
1)        Upacara bendera di sekolah setiap hari senin.
2)        Upacara hari-hari besar nasional.
3)        Kebaktian sekolah setiap satu bulan sekali.
g)   Bila guru belum datang atau berhalangan hadir siswa diharap tenang berada di dalam kelas, sedangkan ketua kelas segera melapor pada guru piket/ Kepala sekolah.
h)   Siswa tidak diperkenankan menerima tamu diluar,kecuali seizin guru piket/ BP/ Kepala sekolah.
i)     Siswa wajib ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan kelas , gedung sekolah, halaman, serta tanaman yang berada didalamnya.
-            Tata tertib pakaian dan dandan
1.    Semoga siswa wajib berpakaian seragam sekolah dengan kelengkapan bedge osis dan tanda lokasi yang dijahit pada baju.
2.    Pemakaian seragam sekolah         :
a.    Kemeja /blouse lengan pendek ( warna putih ) harus dimasukkan kedalam celana atau rok warna abu-abu tiap hari senin dan selasa.
b.    Tiap hari rabu dan kamis memakai seragam jurusan masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku.
c.    Selama pelajaran olahraga/kesehatan dilapangan hendaknya memakai pakaian olahraga sesuai ketentuan yang berlaku.
d.   Semua siswa hendaknya menggunakan sepatu dan berkaos kaki putih.
e.    Semua siswa putra tidak diperkenankan berambut gondrong dan dicat warna-warni.
f.     Siswa putri tidak diperkenankan memakai lipstick, rok mini/panjang dan rambut tidak boleh dicar warna-warni.
-            Larangan-larangan bagi siswa :
1.    Siswa tidak diperkenankan membawa, menyiapkan atau menghisap rokok atau barang/benda lain yang dilarang penggunaannya oleh hukum.
2.    Siswa dilarang menyiapkan, membawa bacaan, gambar-gambar yang tidak senonoh.
3.    Siswa dilarang berkelahi antar siswa terutama dalam satu kelas osis.
4.    Siswa dilarang melakukan tindakan-tindakan yang mencemarkan nama baik orang tua/ guru/ sekolah.

-            Kewajiban-kewajiban lainnya  :
1.    Siswa wajib bersikap sopan dan hormat terhadap guru, karyawan sekolah, dan semua pihak yang termasuk lingkungan SMK Kristen Gergaji.
2.    Siswa waib menghormati keyakinan agama/ Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa orang atau kawan lainnya.
3.    Siswa wajib patuh dan melakukan tugas-tugas yang diberikan guru.
4.    Siswa wajib menjaga barang miliknya sendiri baik berupa orang dan barang-barang berharga lainnya.
5.    Siswa wajib melaporkan jika menemukan/kehilangan barang.
6.    Siswa menggantikan barang-barang sekolah yang dihilangkan atau dirusakkan.
7.    Siswa wajib melaporkan perubahan alamat siswa/ orang tua/ wali murid.
8.    Uang sekolah ( SPP ) iuran-iuran lainnya dibayar tiap bulan dan paling lambat tanggal 10. Jumlah uang sekolah ( SPP ) . . . tahun dibayarkan 12 kali.